Mitigasi Bencana Tsunami Dalam Pariwisata

Wisatawan Memenuhi Pantai Pangandaran

Pangandaran – Akhir-akhir ini, gempa sering terasa disekitar wilayah Kabupaten Pangandaran. Pariwisata jadi salah satu sektor yang kena imbas.

Lantas, bagaimana seharusnya mitigasi bencana dalam pariwisata ini diterapkan?

Yang perlu kita ingat “Bencana selalu ada dan tak bisa dihindari”. Apalagi Kabupaten Pangandaran berada di garis Ring of Fire yang secara kebetulan kita akan selalu berhadapan dengan gempa.

Potensi bencana alam yang terjadi di wilayah pesisir Indonesia khususnya Pangandaran yaitu gempa bumi, tsunami, banjir, kenaikan permukaan air laut (rob), dan angin topan.

Potensi bencana tersebut mengancam masyarakat pesisir dan berdampak buruk bagi ekosistem pesisir. Menurut Dirjen Perencanaan Ruang Laut Bapak Ir. Suharyanto, M.Sc salah satu isu strategis yang ada yaitu Bencana Alam (Dikutip dari Kompasiana 04/12/07).

Kembali ke pembahasan “bagaimana seharusnya mitigasi bencana dalam pariwisata ini diterapkan?”

Pertama, Teknologi. Teknologi yang mumpuni akan deteksi potensi bencana begitu diperlukan.
“Seperti harus tersedia water level di berbagai titik destinasi, supaya bisa mengukur ketinggian air, serta harus ada Tsunami Early Warning System di setiap destinasi wisata pantai. ”

Kedua, Tsunami Drill. Pelatihan rutin evakuasi tsunami.
“Pelatihan simulasi tsunami ini harus sering dilakukan baik bagi masyarakat setempat, pelaku wisata maupun para wisatawan itu sendiri.

Ketiga, Informasi. Informasi akurat dan bukan Hoax.
“Jika setiap kejadian bencana, masih banyaknya berita hoax beredar baik itu melalui pesan singkat berantai maupun media sosial yang ada. Bagi masyarakat, pastikan berita tersebut berasal dari instansi terkait yang menaungi informasi kebencanaan.”

Salah informasi bisa mengakibatkan cancellation pada wisatawan, yang mengakibatkan kerugian bagi pelaku wisata.

Laporan Terbaru