Pangandaran Siap Menjadi Desa Tsunami Ready IOC-UNESCO

Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai risiko tinggi terhadap bencana tsunami di Laut Selatan Jawa karena berada pada zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang sangat aktif. Zona subduksi Laut Selatan Jawa merupakan sumber gempa bumi tektonik yang dapat menjadi sumber potensial terjadinya tsunami. Hal ini terlihat dari historis kejadian tsunami di selatan jawa antara lain pada tanggal 11 September 1921 (M7,5) dan 17 Juli 2006 (M7,7) yang keduanya melanda beberapa daerah di selatan jawa termasuk Kabupaten Pangandaran.

 

Di samping itu, hampir seluruh lepas pantai Kabupaten Pangandaran merupakan kawasan wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Desa Pengandaran di Kabupaten Pangandaran dengan Pantai Pangandaran sebagai salah satu destinasi yang cukup populer dan banyak dikunjungi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

 

Maka, Desa Pangandaran diusulkan oleh National Tsunami Ready Board (NTRB) untuk mendapatkan Sertifikat Pengakuan (Certificate for Recognition) Tsunami Ready Community dari Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO (IOC-UNESCO).

 

Tsunami Ready Community sendiri adalah program peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami dengan berbasis pada 12 indikator yang telah ditetapkan UNESCO-IOC. 12 indikator tersebut juga wajib dimiliki sebagai bekal kesiapsiagaan terhadap gempa dan tsunami yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, baik pihak pemerintahan maupun masyarakat itu sendiri menuju zero victim.

 

Berkaitan dengan hal tersebut. Verifikasi Lapangan Tsunami Ready dilaksanakan pada hari Sabtu – Minggu tanggal 17 – 18 September 2022. Dengan dihadiri Bupati Pangandaran H. Jeje Wiradinata, Wakil Bupati Pangandaran H. Ujang Endin Indrawan, Sekda Pangandaran Drs. H. Kusdiana., MM, Head of IOTIC UNESCO/ IOC Ardito Marzoeki Kodijat sebagai verifikator, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu, S.Kom, MM dan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Kustiman, S.Sos, MM.

 

 

Pengalungan Bunga oleh Bupati pangandaran kepada Perwakilan Unesco Ardito Marzoeki Kodijat

 

Verifikasi Ke Kantor BPBD Pangandaran

 

12 indikator tersebut diperoleh dari Forum Kesiapsiagaan Dini Masyarakat (FKDM), BPBD dan Komunitas Relawan yang nantinya akan diusulkan sebagai Desa Siaga Tsunami yang akan diajukan ke UNESCO. Indikator tersebut diantaranya memiliki peta evakuasi, jalur evakuasi, tempat evakuasi sementara, tempat evakuasi akhir, kesiapan komunitas dan masyarakat dalam kegiatan simulasi tsunami, sosialisasi dan edukasi tentang tsunami, rencana kontinjensi, Sarana/peralatan penerima info gempabumi dan peringatan dini tsunami 24/7 dan lainnya.

 

Jeje Wiradinata selaku Bupati Pangandaran menyampaikan “12 indikator ini harus kita penuhi dulu melalui Verifikasi Lapangan oleh Unesco dan yang paling penting adalah bagaimana langkah-langkah apabila terjadi gempa bumi dan tsunami,”. Tuturnya.

 

”Selanjutnya orang akan datang ke Pangandaran dan percaya bahwa Desa Pangandaran standart internasional dalam hal tanggap bencana tsunami,” Tambahnya.

 

Wawancara Bupati pangandaran H. Jeje Wr\iradinata tentang Tsunami Ready

 

Ardito Marzoeki mengatakan “Kita verifikasi lapangan dulu apakah sudah memenuhi semua kriteria atau belum, kemudian nanti akan di kirim Paris IOC-Unesco untuk di review. Keuntungannya adalah pengakuan dari internasional dan tentunya akan masuk di peta global bahwa Desa Pangandaran sudah sebagai masyarakat siaga tsunami dan itu diharapkan nantinya akan memberikan tingkat kepercayaan bagi wisatawan lokal ataupun wisatawan mancanegara.” Tuturnya.

 

Semoga dengan pengajuan Desa Pangandaran sebagai Tsunami Ready bisa menjadi contoh bagi desa-desa yang lain yang terdapat di Kabupaten Pangandaran dan juga untuk daerah di pesisir selatan Jawa Barat lainnya.

Laporan Terbaru