Pantai Pangandaran Senin,17 Juli 2006. Perginya gelombang tsunami membawa banyak cerita duka dan luka yang sangat dalam.
Diawali gempa bumi yang sangat kuat dan disusul dengan gelombang air laut yang sangat dahsyat menghantam pantai, pesisir pantai, meluluh lantahkan gedung, bangunan, hewan, tumbuh-tumbuhan dan beberapa manusia yang merupakan mutiara hidup bagi keluarganya.
Cerita duka dan nestapa menguak takdir Illahi tsunami Pangandaran, ada yang anggota keluarganya bertemu masih hidup dan sehat, ada yang anggota keluarga bertemu masih hidup dan terluka, ada pula anggota keluarganya yang ditemukan sudah menjadi mayat dan tidak kalah lebih nestapanya ada seorang ibu sampai sekarang tidak pernah tahu anaknya masih hidup atau sudah meninggal digulung ombak tsunami yang dahsyat itu.
Seorang ibu kandung yang bernama Lina Susena usia sekarang 40 tahun dilihat dari garis-garis kulit dibawah kelopak matanya kelihatan memendam rasa nestapa sampai saat ini. Mendengar kata tsunami saja kelihatan tangannya bergetar. Gambaran masa lalu yang begitu kuat dihati seorang ibu yang melahirkan anaknya yang bernama Royyan Firdaus Maulana dengan nama panggilan Encep buah hati hasil pernikahan dengan Mochamad Yusuf Komara (Alm) pada waktu kejadian Encep berusia 6 tahun. Bulaklaut, 17 Juli 2006 adalah hari yang ditunggu-tunggu Encep untuk mulai merasakan masuk Sekolah Dasar. Hari pertama sekolah Encep minta diantar ke sekolah oleh Bapak dan Ibunya. Yusuf (Alm) setelah mengantar dari sekolah, langsung pergi ke kantor untuk mengajar di SMP Kalipucang, sedangkan Lina menunggu Encep di sekolah yang waktu itu bernama SDN 2 Pananjung sampai pukul 09:00 WIB.

Sore harinya, karena Lina di rumahnya mempunyai warung nasi yang pada waktu itu sering kedatangan wisatawan asing. Sementara Lina sedang memasak dan melayani konsumen yang makan, sedangkan Yusuf suaminya baru pulang mengajar langsung berbincang-bincang dengan konsumen. Encep dan kakaknya yang bernama Neneng Nur Aulia Permaniksari sedang bermain dengan teman sebayanya. Sekitar pukul 16.00 WIB tiba-tiba ada suara keras seperti ban pecah dibarengi angin yang sangat kencang. Beberapa menit kemudian banyak orang teriak “Air naik….air naik..”. Lina pun kaget dan berlari tanpa alas kaki menjauh dari pantai sambil mencari Encep dan Neneng yang sedang main entah dimana. Lina dengan ketakutan yang sangat luar biasa dan sambil mencari anak-anak serta suami tercinta terus berlari bersama warga lainnya ke masjid Agung Pangandaran.
Sesampainya di Masjid Agung tepat waktu shalat maghrib dan buka puasa bagi yang melaksanakan puasa sunah Senin, maka beberapa orang yang ada disitu entah siapa memberi minuman kepada Lina. Bingung, sedih, waswas, serba ketakutan bercampur dengan ingin tahu keberadaan suami dan kedua anaknya.
Tangisan di Masjid Agung pada waktu itu begitu memilukan, apalagi ada isu tsunami susulan. Bertepatan dengan waktu shalat Isya suami Lina menjemput dan ternyata Yusuf sudah mengamankan dirinya sampai perbukitan Purbahayu bersama anak pertamanya Neneng. Pertama kali ditanyakan mana Encep dan waktu itu juga Lina menanyakan hal yang sama akan keberadaan Encep. Karena isu tsunami susulan Lina bersama Yusuf mengambil langkah untuk evakuasi ke perbukitan Purbahayu. Hari Selasa pun tiba Yusuf dan Lina mencari informasi keberadaan Encep, setiap ada berita ditemukan anak baik yang masih hidup ataupun meninggal selalu didatangi hasilnya bukan Encep.
Perjuangan kedua pasangan suami istri tersebut sudah dimuat pada Majalah Wanita Kartini edisi 2172 / 17 – 31 Agustus 2006. Di cerita tersebut bermacam-macam informasi waktu kejadian Encep ada yang mengatakan lari menyalamatkan diri dan ada yang mengatakan dibawa oleh seseorang memakai mobil itu yang jadi harapan bahwa Encep masih hidup. Berhari-hari kedua pasangan suami istri tersebut tidak patah semangat, berbagai cara dilakukan termasuk mendatangi awak media tapi mungkin takdir berkata lain akhirnya Encep sampai sekarang tidak pernah diketemukan masih hidup atau sudah meninggal.
Sekarang kehidupan Lina beserta anak-anaknya (3 anak) hidup tentram dan bahagia di rumah jerih payah mereka berdua, rumah baru mereka di Babakan pasca tsunami lalu. Adapun Yusuf suaminya meninggal pada tahun 2016, semenjak kejadian tsunami tersebut Yusuf sering sakit.
Perjuangan mereka, kepasrahan mereka dan keihklasan menerima takdir dari yang Maha Kuasa merupakan inspirasi bagi kita. Semoga nestapa tsunami Pangandaran tidak terulang kembali. Amiin
