Pangandaran (6/10) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaksanakan simulasi virtual gempa bumi yang berpotensi tsunami di pesisir panta Selatan Jawa, dengan peserta dari berbagai instansi diantaranya ITB, UNESCO-IOTIC, BIG, BPPT, U-Inspire, Basarnas, Metro TV, MNC TV, INews, TV One, RRI, 36 UPT BMKG, UPT Maritim, 130 BPBD dari 19 Provinsi, Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), ORARI, RAPI, Satuan Radar 215 Congot, Universitas Mataram dan Hotel Mabruk Anyer Banten.
Simulasi digelar untuk memantapkan kesiapsiagaan apabila terjadi bencana tsunami di kawasan Samudera Hindia. Kegiatan ini bertajuk Indian Ocean Wave Exercise 2020 (IOWave20) pada Selasa (6/10/2020). Dalam latihan kali ini mengambil scenario kejadian gempa bumi yang terjadi di Selatan Jawa dengan Magnitudo 9,1 Skala Richter hingga menyebabkan tsunami.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Drs. Suheryana, MM, mengatakan kegiatan ini untuk memantapkan SOP dan kesiapsiagaan personil yang ada di BPBD Kabupaten Pangandaran serta penyesuaian SOP dengan kondisi pandemic COVID-19 yang masih berlangsung. Sehingga latihan dilaksanakan melalui Virtual Table Top Exercise (TTX).

“Simulasi ini untuk memantapkan SOP dan kesiapsiagaan personil yang ada di BPBD Kabupaten Pangandaran serta menyesuaikan SOP yang ada dengan kondisi saat ini yaitu pandemic Covid-19,” ujar Suheryana.
Latihan kesiapsiagaan ini digelar serentak di 28 Negara Samudera Hindia dan Indonesia diikuti 130 BPBD dari 19 Provinsi dan beberapa organisasi lain. Dengan skenario empat peringatan dini gempa bumi berpotensi tsunami.
Selain untuk memantapkan SOP daerah, kegiatan ini juga bertujuan untuk menguji diseminasi informasi dari perangkat Warning Receiver System New Generation atau WRS NG apabila terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami. Kemudian BMKG membuat skenario gempa berkekuatan 9,1 magnitudo.
Dikatakan Suheryana, simulasi ini melibatkan beberapa stakeholder dengan BPBD dan Pusdalops BPBD Pangandaran sebagai aktor utama dalam pelaksanaannya. Simulasi ini sangat penting dilaksanakan untuk mempersiapkan semua pihak dalam menghadapi setiap potensi bencana yang ada di Kabupaten Pangandaran.
“Mengenai Early Warning System (EWS) Tsunami Kabupaten Pangandaran mendapat bantuan dari BNPB dan dari BMKG. Kabupaten Pangandaran mempunyai Early Warning System (EWS) Tsunami sebanyak 14 unit tetapi dalam kondisi rusak dan 2 unit dari BMKG Alhamdulillah dalam kondisi baik, dan saat ini kami sedang mencoba mengajukan pengadaan atau perbaikan alat tersebut ke BNPB,” terang Suheryana.
Dikesempatan terpisah, Muhammad Nur sebagai Fasilitator dari Stasiun Geofisika Klas 1 Bandung mengungkapkan, simulasi ini digelar secara virtual dikarenakan masih dalam kondisi pandemic Covid-19. Mudah-mudahan untuk tahun 2022 dilaksanakan tsunami drill di lapangan seperti tahun 2016 dan 2018.
“Mudah mudahan tahun 2022 pelaksanaan IOWave dilaksanakan dilapangan seperti tahun 2016 dan 2018. Mengingat kondisi saat ini masih dalam kondisi pandemic Covid-19,”pungkas M. Nur.
“Tahun depan juga BPBD Pangandaran akan mendapat bantuan Warning Receiver System New Generation (WRS NG) dari BMKG untuk mendukung kesiapsiagaan di BPBD dalam menerima informasi gempa maupun tsunami secara cepat. Dengan berbasis Internet of Think (IoT), masyarakat akan menerima informasi dari BMKG dengan cepat dan didukung oleh para petugas InaTEWS, maka informasi yang diterima selain cepat tentunya juga akurat,’tambahnya.
